K.H. Alawy Muhammad: Singa Podium dan Sang Pembela Rakyat Kecil dari Madura

K.H. Alawy Muhammad: Singa Podium dan Sang Pembela Rakyat Kecil dari Madura

Lahir di Dusun Karongan, Sampang pada tahun 1928, K.H. Alawy Muhammad lahir dari keluarga petani sederhana. Latar belakang inilah yang kelak menanamkan empati luar biasa di dalam dadanya terhadap penderitaan kaum mustadhafin (orang-orang lemah). Masa mudanya dihabiskan dengan merantau ke tanah Jawa, di mana dahaga ilmunya menuntun beliau nyantri kepada Al-Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bil Faqih di Pesantren Darul Hadits, Malang. Beliau kemudian menyempurnakan keilmuannya dengan bermukim dan berguru kepada para ulama besar di Tanah Suci Makkah pada usia 27 tahun.

Sepulang ke Madura, Kiai Alawy mengemban amanah besar meneruskan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren At-Taroqqi, Sampang, menggantikan sang adik, K.H. Ma'mun. Di bawah asuhan tangan dinginnya, wilayah Karongan yang dulunya sarat akan kemaksiatan seperti sabung ayam dan perjudian, perlahan berhasil disulap menjadi mercusuar ilmu. Beliau mendidik ribuan santri dengan penuh ketegasan sekaligus kebijaksanaan, menjadikan pesantren tersebut sebagai lumbung kaderisasi akhlak umat.

Kiprah Kiai Alawy yang paling menggetarkan sejarah adalah keberaniannya berdiri di garda terdepan pada peristiwa "Tragedi Nipah" pada September 1993. Di saat rezim Orde Baru sedang berada di puncak kekuasaan dan represi, beliau tanpa gentar sedikit pun mengadvokasi serta memblokade aparat demi melindungi para petani yang tanah leluhurnya dirampas paksa untuk proyek waduk. 

Perjuangannya yang gigih dalam mencari keadilan bagi warga yang gugur membuahkan hasil luar biasa; beliau berhasil menyeret para oknum penembak ke meja hijau dan melengserkan penguasa daerah setempat.
Sang ulama pemberani yang hela napasnya selalu diwakafkan untuk membela Islam dan rakyat kecil ini menghembuskan napas terakhirnya bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, yakni pada 10 November 2014. 

Warisan keberanian, ilmu, dan estafet kepemimpinan pesantrennya kini diteruskan oleh sang putra, K.H. Fauroq Alawy. Pesan terakhir beliau sebelum wafat akan terus menggema: "Umat Islam jangan jauh-jauh dari aqidah, dan selaku bangsa Indonesia jangan meninggalkan Pancasila." Lahumul fatihah...

#KHAlawyMuhammad #UlamaMadura #TragediNipah #PesantrenAtTaroqqi #UlamaNusantara #SanadIlmu #SejarahUlama #PecintaUlama #SingaPodium #TokohMadura #UlamaJawaTimur
___________

Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 148
KH. Alawy Muhammad Sampang Madura 

Satu demi satu, potret ini sedang diproses menjadi Digital Art Portrait.

Bukan sekadar gambar, tapi upaya mengabadikan wajah dan jejak ulama dalam karya visual.

Perjalanan menuju 1000 ulama Nusantara.
Masih panjang, dan akan terus bertambah.

📌 Sudah sampai episode berapa?
Lihat di profil, dan nantikan seri berikutnya.

#UlamaNusantara
#PotretUlama
#JejakUlama
#DakwahVisual
#PecintaUlamaNusantara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gusdur Buta Mata dan Hatinya

Prof. Dr. As Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani

𝐌𝐄𝐍𝐔𝐋𝐈𝐒 𝐁𝐀𝐒𝐌𝐀𝐋𝐀𝐇 𝟏𝟏𝟑 𝐃𝐀𝐍 𝐀𝐑-𝐑𝐀𝐇𝐌𝐀𝐍 𝟓𝟎 𝐃𝐈 𝐀𝐖𝐀𝐋 𝐌𝐔𝐇𝐀𝐑𝐑𝐀𝐌